Setelah 15 bulan dan melewatkan 2 hari raya, akhirnya saya pulang juga. Melepas kangen dengan ibu tercinta, para bestie, kuliner Balikpapan berbungkus promo buku perdana saya. Malam itu saya tiba diiringi hujan yang lumayan deras. Sepertinya langit ikut terharu melihat saya menginjakkan kaki yang telah jauh berjalan untuk kembali pulang.
Tetapi kesejukan malam itu tidak berlangsung lama, matahari cetar membahana menghajar tubuh berlemak ini tanpa tanggung-tanggung. Keringet buntet merajalela. Seolah-olah sekujur badan saya menjadi lahan empuk dan tak lupa merupakan sumber makanan para nyamuk siang dan malam. Saya lupa bahwa ada makhluk berdenging dan penggigit ulung yang mengincar setiap sudut kulit yang terbuka.
Ah, saya merindukan apartemen saya. Tidak ada nyamuk dan selalu dingin. Sepertinya setelah menjelajah negara 4 musim, saya jadi candu dengan salju. Dinginnya yang membuat saya bisa tidur nyenyak. Confirm, saya gak cocok tinggal di daerah panas. Hahahaha, belum-belum begaya aja nih anak kampung.
Balikpapan memang selalu panas. Walaupun begitu kulinernya bikin kangen. Nasi kuning, pecel ayam mbak Nur, soto ayam seger di warung Jogya, ayam wangi Simpang 4 Suki, pempek 77, jajanan pasar Stal Kuda, nasi goreng Jakarta di Korpri. Tak lupa soto banjar di paman Irsyad. Yah sementara baru itu yang dimakan lagi.

Gimana warga Balikpapan, ada yang baru yang worthed dicoba ?
2 Comments
I always support what you wish, Mashaaalllaahh… Everything best for youuuu
Jazakillah khoir ustadzah Ocha…you too..barokallahu fyk