Kembali ke rutinitas pengajar online yang gak punya waktu khusus liburan layaknya pekerja kantoran atau guru sekolah offline. Senin sampai Jumat biasanya hanya berada di dalam unit ukuran 30 meter persegi, ngajar-makan-tidur-toilet-repeat. Karena banyak tanggal merah dan cuti bersama, maka sudah dipastikan teman saya yang pekerja kantoran akan ngajak saya keluar untuk jalan dan kulineran. Suatu ajakan yang syulit untuk ditolak.
Maka minggu ini saya dan teman saya pergi ke Blok M lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Gak pernah bosen sih ke Blok M walau rame. Karena kami tentu saja tidak akan ke tempat yang antri panjang gak masuk akal. Kami biasanya menghabiskan waktu ngafe yang gak rame dan berjalan-jalan saja untuk meluruhkan lemak yang gak habis-habis inih.
Gak libur akhir tahun saja, bisa dipastikan weekend (start from Jumat) negara Blok M ini rame ngeruntel, apalagi libur akhir tahun macam saat ini ya. Warlok ditambah turis menjadi satu, tumpah ruah disini. Ya walau ada juga warlok yang gak suka ke Blok M apalagi saat rame begini. Bagi saya mah, hayuk aja, selama saya masih bisa jalan (plus jajan) banyak.

Kondisi jalanan Blok M menuju MRT per 28 Desember 2025.
Siang ini kami makan di cafe masakan Malaysia, dekat Pasaraya Blok M. Gak nyangka sih kalau makanan dan minumannya cukup ramah di kantong dan yang paling penting tempatnya adem dan luas. Bonusnya gak rame. Cocoklah buat kaum yang gak cukup tua (menolak tua) untuk dipanggil Ibu dan terlalu tua untuk dipanggil Kak.
Setelah makan berat kami memutuskan untuk lanjut jalan kaki seputaran Blok M ini. O ya btw karena kami sama-sama IF (alias Intermitten Fasting) jadi kami makan sekitar jam 13.00 an. Sholat dzuhur di rumah masing-masing dulu. Kalau jadi warlok kita harus jeli dalam waktu sholat ya. Karena waktu di perjalanan Jakarta itu sangat tidak bisa perkirakan. Jadi amannya kami bertemu setelah sholat dzuhur dan biasanya akan sholat ashar di tempat yang dituju. Intinya mah, jangan sampai terlewat waktu sholat hanya karena terjebak macet di jalan.
Balik ke waktu melemaskan kaki ini, kami melihat ada cafe buat ngopi gitu yang gak gitu rame dan unik. Uniknya, cafe ini dari luarnya seperti bar, tapi mereka menyediakan musholla. Sangat cucok dengan kami. Walau banyak para remaja yang berfoto di luarnya, dalam cafe ini lumayan sepi. Karena masih kenyang dan cuma ingin menikmati orang lalu lalang di jalan, kami cuma memesan minum dan memilih tempat duduk dekat jendela.
Saya bukan penikmat kopi, tapi suka mencium wanginya. Sambil meminum milkshake coklat dengan topping es krim di atasnya, menatap pemandangan luar yang mendadak mendung, Alhamdulillah suatu nikmat yang luar biasa. Kemudian seperti di novel, turunlah hujan dengan lebatnya, orang-orang berlarian berteduh di teras supermarket atau cafe. Dan kami dengan santainya mengobrol Dan berfoto di dalam cafe dengan harga minuman standar. Hanya 30 ribu saja, dapat tempat berteduh dengan nuansa vintage. Lengkap sudah perjalanan hari ini, sambil memesan mobil online masing-masing ke next destination tanpa kehujanan. Nikmat manalagi yang kau dustakan ?
