Bukan, ini bukan tentang film romantis sepanjang masa yang bikin baper dan klepek-klepek kaum wanita ituh. Bukan tentang Lizzie dan Mr.Darcy. Tapi tentang saya dan orang baru yang melihat saya. Dengan kecuekan dan ketidaksadaran saya ini, saya merasa sih biasa-biasa aja. Buat orang yang sudah belajar agama melihat pakaian saya yang menutup aurat termasuk wajah tapi masih memakai two pieces dan berwarna mungkin terasa tidak tepat (eh tapi ini mah biasa yang narrow minded aja sih 🥴). Gak berlaku buat di Jakarta ini sih menurut sayah, jarang ada tatapan aneh seperti kalau saya memakai pakaian tersebut di kampung halaman saya. Bisa diliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau di Jakarta alhamdulillah lebih banyaknya sih persangkaan yang positif ya. Misalnya, saya sering dikira lulusan pondok pesantren atau ummi-ummi (Habib versi perempuan ya). Jadi sering ditanya hukum-hukum atau bahkan amalan-amalan (bid’ah/yang beda jalur) yang harus dilakukan. Kejadian terbaru adalah saat saya berada di mobil online dan bersiap mau rehat atau merem sebentar gitu, karena lumayan panjang waktu tempuhnya. Drivernya mulai membuka pembicaraan. “Ibu lulusan pondok mana ?” “Oh, saya bukan lulusan pondok Pak, memangnya kenapa Pak ?” “Oh gitu, saya mau nanya-nanya tentang syariat Islam Bu, tapi memang menutup auratnya Ibu bagus ya!” “Mau nanya apa Pak ? Alhamdulillah, kan gak musti harus lulusan pondok Pak untuk berpakaian seperti ini. Kewajiban kita untuk menuntut ilmu dan mengetahui agama kita walau tidak mondok.” “Gitu ya Bu, bener sih ! Saya mau nanya Bu tentang hutang “, kemudian mengalirlah cerita beliau panjang kali lebar…. “Namanya hutang harus dibayar ya Pak, karena dalam islam…” akhirnya saya menjelaskan secara horizontal dan vertical. Saya pikir si Bapak sudah cukup puas dengan jawaban saya. Ternyata berlanjut dengan pertanyaan berikutnya. Dan tausiah saya berlanjut terus hingga menyentuh tema sholat. Karena ternyata si Bapak lulusan pondok pesantren tetapi sudah sekian lama tidak mengamalkan ajaran yang termasuk sering melalaikan sholat 5 waktu alias meninggalkannya. Yang uniknya, ketika sudah mau tiba di tujuan si Bapak menyimpulkan. “Alhamdulillah ya Bu, saya dapat ilmu dari Ibu sehingga gak terasa sudah sampai tujuan. Ada 3 ilmu syariat Islam yang saya baru pelajari dari Ibu, tentang hutang, sholat ghoib dan sholat 5 waktu. Makasih ya Bu !” “Sama-sama Pak ! Sebagai muslim kita musti saling mengingatkan Pak, jangan lupa sholatnya ya Pak !”, demikian saya menutup percakapan kami dan turun. Lelah karena gak sempet istirahat seperti yang saya harapkan, tapi bahagia.
Liburan warlok Jakarta – Part 3
Masih di hari yang sama, sehabis dari Blok M tadi tujuan berikutnya adalah Sency alias Mall Senayan City. Terus terang saya rasanya selama pindah ke Jakarta ini belum pernah ke Mall Sency. Nuansanya seperti ke Plaza Indonesia. Menurut saya yang kaum berburu asesoris lucu nan murah meriah. Jadi intinya bukan kelas saya. Terus ngapain saya ke situ ? Pertama untuk memenuhi undangan keluarga. Karena ada tante saya yang dari luar kota berkunjung, maka seperti biasa keluarga besar dari pihak ibu saya yang berada di Jabodetabek berkumpul untuk bersilaturahmi. Undangannya berkumpul di Food Court Sency, yang baru saya tau ternyata berada di lantai paling atas. Kedua, sepertinya Allah punya kehendak lain untuk saya. Saya ke Sency untuk memimpin sholat jamaah perempuan di Musholla lantai GF. Bagaimana ceritanya ? Jadi seperti yang saya sampaikan di Part 1, musholla di Mall-Mall Jakarta itu penuh banget. Padahal gak cuma satu mushollanya. Seperti di Sency ini. Menurut sepupu saya yang sering kesitu, ada musholla lagi di lantai 6 di parkiran. Nah, karena tiap waktu sholat penuh banget, jadi kami inisiatif ke Musholla 15 menit sebelum waktu sholat Magrib tiba. Alhamdulillah kami bisa berwudhu dan dapat tempat duduk dengan nyaman. Saya memilih tempat duduk yang depan ya pilar. Lebih mudah menaruh tas dan ada sutrah alami. Sambil menunggu waktu sholat yang masih ada sekitar 5-8 menitan lagi, penjaga mushollanya menginfokan bahwa di musholla perempuan ini tidak ikut berjamaah dengan para pria karena posisinya yang di depan jamaah pria. Jadi diharapkan sholat sendiri-sendiri saja atau jika mau berjamaah diantara para perempuan dipersilahkan. Tante saya yang duduk di depan dah nengok ke arah saya yang di posisi belakang. Meminta saya ke depan dan memimpin sholat berjamaah di antara keluarga saya. Mungkin karena saya guru ngaji. Kemudian saya persilahkan sepupu saya yang di Jakarta dan lebih senior dari saya untuk menjadi imam. Tapi meminta saya saja. Setelah adzan berkumandang, jadilah saya berdiri, dan karena di belakang saya sudah banyak jamaah perempuan, sekalian saja saya tawarkan. Kalau ada yang mau jamaah dengan saya silahkan. Saat itu saya posisi di baris kedua. Nah, jamaah di baris pertama langsung menawarkan agar saya maju ke depan untuk memimpin jamaah. Akhirnya jadilah saya memimpin sholat berjamaah ini dengan surah andalah Qul (Al Kafiruun dan Al Ikhlas). Disamping itu yang paling dihafal, juga karena melihat kondisi antrian jamaah yang belum sholat juga. Saya merasa ada getaran di suara saya karena baru ini setelah sekian lama, memimpin jamaah sebanyak ini dan khawatir lupa ayat. Alhamdulillah selesai juga dan langsung beranjak dengan perasaan campur aduk. Senang karena banyak yang sholat on time, bahagia karena di Mall elite nan mewah sekelas Sency ini masih ramah muslimah. Ada musholla khusus muslimahnya itu loh. Dengan kamar mandinya juga ada di area wudhu. Daaan ada petugas perempuannya yang selalu mengingatkan buat menjaga barang-barang berharga dan bisa menempati tempat yang kosong dengan sutroh. Gak semua paham loh dengan sutroh. Dan petugasnya yang saya temui ada yang penampilannya seperti laki-laki. Hampir saya kaget, ternyata pakai anting. Bener-bener, don’t judge book by it’s cover yah. Kereen buat Sency 🥰. Antrian luar, antrian di dalamnya juga sama. Ini hampir di semua Mall di Jakarta seperti ini. Masya Allah !
Liburan warlok Jakarta – Part 2
Kembali ke rutinitas pengajar online yang gak punya waktu khusus liburan layaknya pekerja kantoran atau guru sekolah offline. Senin sampai Jumat biasanya hanya berada di dalam unit ukuran 30 meter persegi, ngajar-makan-tidur-toilet-repeat. Karena banyak tanggal merah dan cuti bersama, maka sudah dipastikan teman saya yang pekerja kantoran akan ngajak saya keluar untuk jalan dan kulineran. Suatu ajakan yang syulit untuk ditolak. Maka minggu ini saya dan teman saya pergi ke Blok M lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Gak pernah bosen sih ke Blok M walau rame. Karena kami tentu saja tidak akan ke tempat yang antri panjang gak masuk akal. Kami biasanya menghabiskan waktu ngafe yang gak rame dan berjalan-jalan saja untuk meluruhkan lemak yang gak habis-habis inih. Gak libur akhir tahun saja, bisa dipastikan weekend (start from Jumat) negara Blok M ini rame ngeruntel, apalagi libur akhir tahun macam saat ini ya. Warlok ditambah turis menjadi satu, tumpah ruah disini. Ya walau ada juga warlok yang gak suka ke Blok M apalagi saat rame begini. Bagi saya mah, hayuk aja, selama saya masih bisa jalan (plus jajan) banyak. Kondisi jalanan Blok M menuju MRT per 28 Desember 2025. Siang ini kami makan di cafe masakan Malaysia, dekat Pasaraya Blok M. Gak nyangka sih kalau makanan dan minumannya cukup ramah di kantong dan yang paling penting tempatnya adem dan luas. Bonusnya gak rame. Cocoklah buat kaum yang gak cukup tua (menolak tua) untuk dipanggil Ibu dan terlalu tua untuk dipanggil Kak. Setelah makan berat kami memutuskan untuk lanjut jalan kaki seputaran Blok M ini. O ya btw karena kami sama-sama IF (alias Intermitten Fasting) jadi kami makan sekitar jam 13.00 an. Sholat dzuhur di rumah masing-masing dulu. Kalau jadi warlok kita harus jeli dalam waktu sholat ya. Karena waktu di perjalanan Jakarta itu sangat tidak bisa perkirakan. Jadi amannya kami bertemu setelah sholat dzuhur dan biasanya akan sholat ashar di tempat yang dituju. Intinya mah, jangan sampai terlewat waktu sholat hanya karena terjebak macet di jalan. Balik ke waktu melemaskan kaki ini, kami melihat ada cafe buat ngopi gitu yang gak gitu rame dan unik. Uniknya, cafe ini dari luarnya seperti bar, tapi mereka menyediakan musholla. Sangat cucok dengan kami. Walau banyak para remaja yang berfoto di luarnya, dalam cafe ini lumayan sepi. Karena masih kenyang dan cuma ingin menikmati orang lalu lalang di jalan, kami cuma memesan minum dan memilih tempat duduk dekat jendela. Saya bukan penikmat kopi, tapi suka mencium wanginya. Sambil meminum milkshake coklat dengan topping es krim di atasnya, menatap pemandangan luar yang mendadak mendung, Alhamdulillah suatu nikmat yang luar biasa. Kemudian seperti di novel, turunlah hujan dengan lebatnya, orang-orang berlarian berteduh di teras supermarket atau cafe. Dan kami dengan santainya mengobrol Dan berfoto di dalam cafe dengan harga minuman standar. Hanya 30 ribu saja, dapat tempat berteduh dengan nuansa vintage. Lengkap sudah perjalanan hari ini, sambil memesan mobil online masing-masing ke next destination tanpa kehujanan. Nikmat manalagi yang kau dustakan ?
Liburan warlok Jakarta – Part 1
Apakah saya sudah termasuk warga lokal Jakarta atau bukan, entahlah. Anggap saja saya sudah warlok ya. Biar cerita ini agak seru dikitlah ! Semenjak tinggal di Jakarta, saya jarang sekali memikirkan liburan anak-anak akan kemana. Secara mereka sekarang dah sibuk dengan projectnya masing-masing dan sepertinya kita bisa kapan aja pergi berlibur atau refreshing. Jakarta gitu loh. Saya yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan saja belum habis rasanya menjelajah tempat-tempat di Jaksel apalagi wilayah Jakarta lainnya. Dan vibes Jakarta sebagai kota tujuan liburan atau wisata yang kuat menjadikan kami seakan ya lagi liburan aja (ini perasaan saya saja mungkin ya, karena bekerja online di rumah dan saat keluar dari unit apartemen serasa liburan 😄). Karena saya suka ke Mall (dingin dan bisa menuntaskan target jalan minimal 5 ribu langkah-gak usahlah terlalu muluk-muluk, untung-untung ada langkah). Jadi liburan akhir tahun ini terkadang dihabiskan dengan mengunjungi Mall-Mall di Jakarta. Favorit saya adalah Pondok Indah Mall (PIM) dan Blok M Plaza sih sekarang. Kenapa PIM ? Karena PIM adalah Mall yang guede banget, dan ada 3 pula. Lumayanlah keliling Dari PIM 1, ke PIM 2 dan lanjut ke PIM 3. Sampai saat ini pun saya masih gak hafal jalan yang menghubungkan ketiga Mall gede itu. Tapi menyenangkan jalan-jalan di sana. Cuci mata melihat barang bagus yang gak akan dibeli karena gak mampu hehehehe, melihat berbagai macam style orang-orang dan banyaknya para suster ngurusin anak atau orangtua majikannya. Di PIM ini juga lumayan banyak mushollanya, hampir di tiap lantai ada musholla. Dan bukan di basement atau di parkiran. Dan amazingnya, mushollanya ruamee banget guys liburan ini. Saat tempo hari kesana saat sholat Magrib sampai antri melebihi antrian donat viral di Blok M. Masya Allah ! Artinya, banyak banget Muslim yang sholat. Kalau liat di luar Musholla kadang kita gak bisa mengira bahwa mbak-mbak cantik nan modis ini adalah seorang muslimah. Soalnya pakaiannya minim fabrik. Itulah, memang kita tidak bisa menilai dari penampilan seseorang. Bisa jadi dia sedang menuju dan memperbaiki dirinya dengan tahapan awal tidak meninggalkan sholat. Sebagai sesama muslimah mari kita doakan agar mbaknya istiqomah dan who knows suatu saat dia berpakaian lebih baik dari kita kan. Mall Pondok Indah ini tidak hanya menjual brand-brand mewah saja tapi brand menengah yang affordable yang sanggup saya beli juga ada. Contohnya Miniso, yang letaknya diantara lapak kuliner. Warning ya, hati-hati ke Mall akhir tahun yah. Banyak sale barang-barang lucu dan akhirnya boncos! Seperti saya gini, gak niat mau beli, eh kebeli juga 🥲. Sebagai penggemar Harry Potter tapi gak sampai jadi Potterhead sih. Melihat sale sampai 50 persen begini dan lucuuuu, gak sanggup melewatkan untuk tidak membelinya. Miniso oh Miniso. Gak sampai disitu, ada store Flying Tiger yang selalu bikin gemes dengan buku jurnal serta pernak-perniknya juga tidak bisa diabaikan. Memakai alasan untuk menulis, jadilah membeli jurnal baru inih. Bahaya banget kan liburan warlok Jakarta ini ? Ya sudah, marilah kita segera pulang sebelum kehabisan dan berakhir dengan makan mie layaknya anak kos akhir bulan.
My Style in West Sumatera
My Style in 3 Asian Countries
My Style in Japan
4 Langkah Memulai Bahasa Arab Dengan Mudah
Seorang muslim memiliki kewajiban dalam mempelajari bahasa Arab karena bagian dari agama. Imam As-Suyuthi Mengatakan,” Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bahasa Arab termasuk bagian dari agama Islam karena mempelajarinya termasuk fardhu kifayah, dan dengan ilmu tersebut dapat diketahui makna lafal Al-Qur’an dan As-Sunnah. “ Dengan mengetahui dasar/dalil kita harus mempelajari bahasa Arab maka itu sudah merupakan langkah awal untuk memulai mempelajari bahasa Arab. Tulisan bahasa Arab berbeda dengan tulisan latin yang kita pakai dalam bahasa Indonesia. Jika kita sudah bisa mengaji alias membaca Al-Qur’an maka pengenalan huruf dan harokat dalam bahasa Arab bisa kita lewati. Langkah selanjutnya adalah : 2. Memahami istilah-istilah dalam bahasa Arab dan fungsinya Banyak istilah-istilah yang berpasangan-pasangan dalam bahasa Arab dan hanya bisa dipahami dengan penjelasan yang agak panjang. Sebaiknya anda mencatat pasangan istilah ini, kemudian rumus perubahan harokatnya serta penggunaannya di dalam kalimat. Buku bahasa Arab yang memperkenalkan kalimat sederhana yang digunakan beserta penjelasan istilah di akhir pembahasannya ada di buku Durusul Lughoh berikut : 3. Mempelajari buku tertentu sesuai kebutuhan dengan guru yang tepat Buku Durusul Lughoh yang disebutkan dilangkah kedua akan lebih baik dipahami dengan penjelasan guru yang memahami kaidah-kaidah bahasa Arab dan bahasa Indonesia dengan baik sekaligus. Jika guru hanya ahli dalam bahasa Arab tapi tidak ahli alias tidak bisa menjelaskan struktur kata dan kalimat dalam bahasa ibu maka murid akan mengalami kesulitan. Tak jarang murid menjadi patah arang belajar bahasa Arab karena sulit dan njelimet. Padahal jika dijelaskan dengan bahasa Indonesia yang baik dan sederhana, bahasa Arab akan dengan mudah dipahami dan tidak menjadi momok yang menakutkan. 3. Mulailah bercakap-cakap secara bertahap Jika sudah memahami kaidah bahasa Arab dan mengenal istilah-istilahnya maka anda bisa memulai menggunakan bahasa Arab untuk bercakap-cakap. Walaupun untuk bercakap-cakap juga bisa langsung dimulai tanpa memahami kaidah terlebih dahulu. Tetapi tentu saja hasil yang akan didapat berbeda. Kemahiran akan lebih cepat dikuasai jika anda telah melakukan langkah pertama dan kedua terlebih dahulu. Berikut referensi buku percakapan bahasa Arab sesuai tema. Jika anda ingin mempelajari bahasa Arab dengan mudah dan bertahap dari dasar bisa kontak penulis ya di @hidawrites.
Review 2 Buku karya Ibnu Qoyyim Al- Jauziyyah – Taman Orang-Orang Jatuh Cinta & Memendam Rindu dan Wisata ke Surga –
Kali ini saya masih akan mereview buku-buku yang menjadi landasan buku Perempuan di BalikPapan dibuat. Pertama saya dibuat sangat berkesan dengan buku karya Ibnu Qoyyim yang berjudul Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Dari judulnya saja sudah bisa membayangkan perasaan cinta yang mendalam dan tidak kesampaian. Membaca buku ini kita diajak untuk memahami hakikat makna cinta sebenarnya. Bagaimana mabuk cinta bisa mempengaruhi seluruh tindak tanduk perilaku kita hingga terkadang kita bisa melihat ketidakmasuk-akalan di situ. Kita diajak berpikir dan diperlihatkan akibat-akibat ‘mabuk cinta’ terlebih jika kita memendam rindu dan mengaplikasikannya pada orang yang salah dan tidak tepat. Kita bisa lebih memahami mengapa ada orang yang jatuh cinta pada suami/istri orang, meninggalkan kenyamanan demi penderitaan yang tidak berujung. Bagaimanapun cinta yang menguntungkan dunia akhirat adalah cinta kepada Yang Maha Pemberi Cinta, Allah SWT. Sedangkan dibuku yang berjudul Wisata ke Surga kita diajak oleh Ibnu Qoyyim untuk lebih mengenal surga. Dari jumlah dan tingkatan surga, jumlah pintu, luas pintu, makanan dan minuman di surga sampai siapa yang pertama mengetuk pintu surga. Buku ini menjelaskan secara rinci segala sesuatu tentang surga sehingga kita bisa lebih merindukan dan beramal sesuai tuntunan sunnah untuk bisa masuk surga yang Masya Allah sangat luar biasa indahnya. Judul salah satu bab buku ini adalah Surga Melebihi Apa Yang Terbersit Dalam Hati Atau Terlintas Dalam Khayalan. Kelebihan buku Ibnu Qoyyim adalah sangat menyentuh hati dan sangat layak dibaca.