Must Have Items saat Bepergian ke Luar Negeri
Jika kita ingin bepergian ke luar negeri dan negara tersebut bukan negara muslim dan tidak memiliki makanan pokok nasi, ini beberapa item yang musti kalian bawa :
Sudut Luka
My Style in Uzbekistan
Ada apa di Balikpapan ?
Saat tiba di Jakarta Sabtu kemarin, teman lama semasa kos di Kukusan Kelurahan yang sekarang sudah menjadi dosen di kampus yang sama, bertanya, “Da, gue mau ke Balikpapan nih, gue bisa keliling kemana aja ya ?”. Sejenak sambil menatap WhatsApp berpikir keras, kemana ya ? Secara Balikpapan tuh panas banget dan jika dibandingkan dengan pulau Jawa yang wisata alamnya luar biasa, Balikpapan tuh gak ada apa-apanya. Mungkin karena saya juga bukan pecinta alam di kala cuaca panas. Saya tidak begitu suka pantai dan hutan. Nah, itulah keunikan Balikpapan. Pantai bisa dilihat dimana-mana, bahkan dari sepanjang jalan raya utamanya. Hutannya ya tidak perlu diragukan lagi, lebat dan sudah pasti banyak binatang yang bersembunyi di dalamnya. Walaupun sekarang sudah ada beberapa pilihan tempat pilihan wisata alam yang instagramable, seperti Bukit Kebo (@bukitkebo), Bamboe Wanadesa (@wisata_bambu), Lakeview (@lakeview.id) yang sekaligus menawarkan wahana bermainnya. Jika anda penyuka pantai dan ingin bermalam sudah ada beberapa pilihan glampingnya, yaitu di Coconut Beach (@coconutbeach.samboja). Wisata legend di Balikpapan ada KWPLH (Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup) atau yang dikenal sebagai Pusat Beruang Madu di daerah kilometer 23 sekitar 45 menit dari Balikpapan kemudian ada juga Bukit Bangkirai (yang terkenal dengan jembatan yang berada di atas pohonnya) terletak di kecamatan Samboja sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan dari Balikpapan. Tak kalah menariknya ada penangkaran Buaya di daerah Tertitip sekitar 1 jam perjalanan dari Balikpapan. Intinya wisata-wisata terkenal di Balikpapan tuh memiliki jarak tempuh yang jauh dan lumayan melelahkan. Sementara kota Balikpapan sendiri bisa dikelilingi dengan cukup singkat dan bisa dalam waktu kurang dari 12 jam beserta mampir kulinernya. Anda bisa mengunjungi Pantai Lamaru dengan pohon cemara udangnya, mirip-miriplah seperti di Naminara Korsel. Di daerah kota ada Pantai Monpera dan Pantai Melawai. Di belakang Mall Pentacity dan Hotel Aston atau Apartemen Borneo Bay, anda juga bisa menikmati laut dengan spot yang bagus. Kemudian anda bisa melihat pemandangan dari dalam kendaraan di daerah pelabuhan Semayang, kawasan jalan minyak sampai kebun sayur tempat berbagai macam oleh-oleh. Jika anda masih ada waktu, malamnya anda bisa makan di belakang kawasan Ruko Bandar dengan tetap menikmati suasana pantai. Yang paling enak sih wisata kulinernya terutama seafood. Next saya coba kasih tau wisata kuliner di Balikpapan ya. Semoga informasi singkat di atas bisa membantu teman-teman yang akan berkunjung ke Balikpapan. Ingat, bawa pakaian senyaman mungkin dan sunblock yah !
IKN
Pertama masuk wilayah IKN disambut dengan debu dimana-mana. Bahkan ada spanduk bertuliskan PAKAILAH MASKER KARENA DEBU BISA MEMBUNUHMU. Emang lumayan horor sih debunya. Masih banyak truk-truk besar berseliweran, pekerja-pekerja baik dengan masker maupun tidak, memenuhi jalan-jalan. Ada yang menyapu jalan, ada yang sibuk memasang jaring-jaring hijau untuk ditanami. Beberapa area sudah tampak hijau dengan rumput yang terawat. Hutan dibabat untuk pembuatan jalan-jalan tol baru serta gedung-gedung berbagai fasilitas. Bahkan RS Hermina disini lebih bagus gedungnya dibanding dengan RS Hermina di Balikpapan. Bangunan apartemen-apartemen sudah mulai tampak tinggi menjulang. Bahkan hotel pun sudah ada, yaitu Swissotel Nusantara. Gedung Bank Indonesia pun sudah berdiri. Bangunannya futuristik seperti film Starwars. Istana Negara megah dengan desain Burung Garuda ‘rendah hati’nya (ini bahasa saya aja, karena seperti tidak terlihat paruh dan tegak kepalanya seperti yang biasa kita lihat di dinding sekolah-sekolah). Seberang Istana Negara terdapat plaza yang baru berisi satu tenan yaitu Exelso. Karena bukan penggemar kopi dan cuaca yang puanas maka saya tidak melihat sampai ke dalamnya. Tampak luar saja. Bangunan plaza ini pun berdesain futuristik. Saat saya berkunjung beberapa area tidak bisa dimasuki karena sedang dalam pembenahan atau pemasangan paving. Saat menuju pintu keluar IKN saya melihat ada kereta tanpa rel yang dibicarakan itu. Tidak terlalu panjang dan ada ban yang tersembunyi di dalam kereta tersebut. Jadi seperti bus dalam badan kereta gitu sih. Sekali lagi ini menurut saya yah. Kesimpulannya, saya cukup takjub dengan hutan belantara yang disulap menjadi gedung-gedung futuristik. Seakan-akan memasuki wilayah mistis dengan beberapa desainnya. Sementara tidak banyak yang dilihat. Tidak sebanding dengan jauhnya perjalanan yang saya tempuh dari Balikpapan. Ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Tapi paling tidak berkunjung ke IKN menjawab rasa penasaran saya dan menjadi bahan cerita saya saat bertemu dengan kawan-kawan di Jakarta. Bagaimana dengan kamu ? Sudah berkunjung ke IKN ? Yang belum, tertarik ? π
Menuju IKN
Alhamdulillah jalan menuju IKN akhirnya terbuka juga. Semenjak menginjakkan kaki di kampung halaman Balikpapan ini, benak selalu memikirkan bagaimana cara ke IKN dan dengan siapa. Saya sudah mengenal keluarga inti saya sendiri, bahwa mereka pasti gak akan mau diajak ke IKN. Mereka tidak suka jalan jauh dan panas. Dan bagi mereka IKN tidaklah terlalu menarik. Apalagi buat ibu saya. Beliau sudah pernah ke Titik Nol dan dulunya kerja di transmigrasi, dah bosen jalan belusukan hutan belantara. Walaupun sekarang sudah disulap layaknya membuat candi, sekejap mata dah jadi, tetap saja tidak menarik perhatian ibu saya. Bertanya dengan beberapa supir online, berapa biaya sewa kendaraan ke IKN membuat saya pesimis bisa pergi ke IKN. Biaya Pulang Perginya sama dengan tiket pesawat saya dari Jakarta ke Balikpapan. Sejenak saya lupakan saja impian saya ke sana. Tetapi jika Allah sudah berkehendak, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Di kesempatan saya mengisi acara Self Healing yang diinisiasi oleh beberapa wali murid sekolah tempat saya mengajar dulu, AISBA, saya sempat berbincang-bincang dengan mbak Lidia dan bunda Adhwa. Saya bertanya,”Sudah pada IKN kah?”. Mereka menjawab, “Belum ustadzah, kepengen sih!”. Ibarat gayung bersambut, akhirnya mereka mengajak saya untuk bareng pergi ke IKN dan menanyakan jadwal kosong saya. Singkat cerita, setelah hampir batal berangkat, Alhamdulillah saya dijemput juga dengan mbak Lidia dan keluarga untuk pergi ke IKN bersama rombongan keluarga bunda Adhwa. Awal berangkat sekitar jam 10 pagi dengan cuaca tidak terlalu panas untuk ukuran Balikpapan, kami menuju tol di km 13. Saya berangkat cuma berbekal dompet dengan beberapa kartu. Ternyata diantara kartu yang saya bawa itu terdapat satu kartu yang berguna. Yaitu kartu e-money saya. Dipergunakan untuk masuk tol. Tarif tol ke Samboja Rp.32.500,- dari gerbang tol Karang Joang. Jalan tol di Kalimantan ini agak berbeda dengan jalan tol di pulau Jawa. Jalan tol di sini, aspalnya tidak rata dan mulus, bergelombang, tak jarang ada lubang yang tidak terlihat dan retakan rambut di jalan aspalnya. Jadi bawa mobil pun tidak bisa selaju dan seaman di pulau Jawa. Pemandangan rimbun pohon di kanan dan kiri tol lumayan menyejukkan mata di tengah cetarnya langit Balikpapan. Perjalanan di tol tidak terlalu lama. Setelah keluar tol kami masih harus lanjut lagi menuju IKN sekitar 1 jam an. Total perjalanan 1,5 – 2 jam dari Balikpapan. Keluar tol, pemandangan pohon sawit di kanan kiri masih memanjakan mata. Mendekati IKN, jalan mulai berdebu dan tanah banyak menutupi jalan aspal. Tanda pengerjaan proyek IKN ini belum selesai. Penginapan dan street food mulai banyak memakai nama IKN atau Nusantara. Indomaret juga sudah ada di sana. Setidaknya saya melihat ada 2 Indomaret di daerah menuju Mentawir dan dekat dengan IKN. Jaraknya memang agak jauh. Ada 2 masjid besar yang menjadi favorit pemberhentian para musafir IKN :-). Saya lupa namanya. Jika melihat kubah masjid warna hijau dan kuning dan besar, nah itulah masjidnya. Rata-rata didominasi warna hijau dan kuning masjid dan kubahnya. Jika menuju IKN dari arah Sepaku dan Semoy maka anda akan melihat Rumah Makan Alam IKN dan tempat oleh-oleh Alam IKN di sisi kanan jalan. Tidak jauh dari RM itu maka anda sudah akan tiba di IKN. Anda harus mengisi aplikasi untuk bisa masuk IKN atau daftar langsung di tempat. Tempat pendaftaran dan pengecekan awal lumayan jauh dari IKN. Anda harus menaruh kendaraan di tempat tersebut dan naik shuttle bus Blue Bird yang sudah disediakan untuk masuk ke wilayah IKN. Anda bisa mengitari wilayah tersebut dengan shuttle bus tadi, kemudian berhenti di tempat di mana anda ingin berfoto, kemudian antri lagi untuk naik shuttle bus berikutnya. Mirip jika anda ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) gitu. Karena kondisi cuaca Kalimantan ini sangatlah panas membahana, cetar hingga gemetar lutut berjalan, jadi siapkanlah fisik anda untuk berjalan jauh, sunblock spf tinggi, kacamata hitam besar dan topi lebar cantik ala Syahrini juga payung golf ya π
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Menerbitkan buku tentang perempuan dengan judul yang ‘menyeramkan’ merupakan tantangan tersendiri. Di tengah kondisi masyarakat yang minim literasi, di tengah para penuntut ilmu yang memandang sebelah mata buku Novel macam ini, di tengah orang-orang yang menilai rendah value (harga) sebuah buku, menumbuhkan kesadaran bahwa mencapai tujuan buku ini dibuat masilah panjang. Karena sub judulnya mengangkat tema tentang perceraian, maka buat sebagian besar orang yang tidak suka membaca atau parno duluan akan dengan mudahnya mereka men’judge‘ isi buku ini lantas abai serta acuh. Jadi ini tuh buku apa sih sebenarnya ? Ini buku novel ya, alias cerita fiktif, rekaan, khayalan tentang seorang perempuan yang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Jadi gak usah dicari tau siapa dia, apakah ini cerita penulis sendiri atau temannya ? Sekali lagi saya katakan, ini bukan cerita seseorang, tetapi cerita rekaan yang bisa saja terjadi kepada siapa pun. Nah, karena saya seorang pendidik, maka tidaklah afdol jika saya tidak menambahkan nilai-nilai serta rambu-rambu dalam setiap episode kehidupan yang dialami tokoh perempuan di buku ini. Apalagi saya sering menerima curhatan para perempuan yang mengalami masalah dan meminta bantuan nasihat tertutama dari sisi agama. Sebagai seorang perempuan dan mengerti perasaan serta emosi yang dihadapi perempuan maka saya merasa perlu membuat buku yang isinya panduan secara bertahap jika perempuan menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Yang tidak sedikit berakhir dengan perceraian. Bukan menyarankan perceraian. Tetapi jika rumah tangga sudah diujung tanduk dan bayang-bayang perceraian sudah dipelupuk mata, supaya perempuan tidak salah melangkah dan mengambil keputusan maka perlu kiranya perempuan menimbang banyak hal yang akan dijelaskan di bab-bab buku ini. Buku ini ibarat pedoman A sampai Z bagaimana sebaiknya perempuan mengelola perasaan dan tindakan yang akan diambilnya. Memang benar bahwa setiap buku akan menemukan pembacanya sendiri. Karena setiap orang memiliki pengalamannya sendiri-sendiri dan secara tidak langsung akan membentuk ‘circle‘nya sendiri. Dengan menulis dan memberanikan diri untuk menerbitkan buku ini, membuat saya menemukan circle baru dan seperti layaknya alat filter. Saya menemukan teman dan keluarga yang sesungguhnya. Yang mau ‘mengenal’ saya lebih dalam, yang mau ‘kepo’ apa sih isi buku saya ini, yang mau terima ‘mahal’nya buku saya even untuk ukuran Balikpapan yang biaya hidupnya termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia. Memasarkan buku yang ‘tidak biasa dan tabu’ ini dengan membuat acara bedah buku, sharing session bahkan promo di beberapa radio (dalam rangka mengedukasi para perempuan juga), tidak juga terlalu mendongkrak penjualan buku saya. Tetapi saya tetap senang dan menikmati semua proses itu. Yang paling membahagiakan adalah bertemu dengan perempuan-perempuan dengan berbagai masalahnya, berbagi tips, saling memotivasi dan menyemangati. Satu even membuat saya bersyukur bahwa anak-anak SMP dan SMA Pondok antusias mengikuti bedah buku saya, bertanya mengenai beberapa bab di buku saya dan saya bisa menjelaskan dari perspektif seorang pelajar dan mengedukasi mereka tentang persiapan-persiapan menjadi calon istri dan calon ibu. Akhirnya buku saya, perlahan tapi pasti menemukan pembacanya. Saya menemukan audience saya. Alhamdulillah atas segala nikmat Allah yang luar biasa. Apakah anda masih takut membaca buku Perempuan di BalikPapan, Pertolongan Pertama Pada Perceraian ?
Kuliner Balikpapan
Sebagai pecinta makanan dan pemakan segala alias tidak ada pantangan, maka salah satu yang bikin kangen Balikpapan tuh adalah makanannya. Hampir semua makanan ada dan enak-enak. Selain soto banjarnya yang juara, makanan seafoodnya juga gak kalah maknyus. Kangen dengan rumah makan legendaris Haur Gading yang terletak di pusat oleh-oleh dan cinderamata Balikpapan yaitu daerah kebun sayur, maka meluncurlah siang nan terik hari itu bersama seorang bestie. Langsung tertarik dengan udang bakarnya yang lumayan besar dan menggugah selera. Bergegas saya memesannya dan langsung mencari tempat duduk dekat kipas angin. Sudah mendekati jam makan siang. Sebentar lagi bakal rame dan susah cari tempat duduk yang nyaman untuk makan di sana. Benar saja, 10 menit kami duduk dan menikmati hidangan pembuka, sayur pare, berdatanganlah bapak-bapak pekerja dari berbagai instansi di Balikpapan. Alhamdulillah pesanan kami sudah diletakkan di meja dan siap untuk disantap. Yang paling saya sukai juga adalah sambel mangganya. Mari Makan ! Buat yang belum tau dan akan berkunjung ke Balikpapan, berikut menu dan tumpukan ikan yang disiapkan di RM. Haur Gading.
BERGEMBIRA DI ATAS LUKA
Taman bermain ini tidak pernah sepi Anak-anak perosotan bersahut-sahutan dalam bahasa bangsa penjajah yang tidak pernah menjajah kita Para ibu sibuk bergosip mengutuk seorang anak selebritis Para ojol dengan rokok dan batuk kering mengobrol sambil menunggu orderan Mata mereka lincah melihat sekelebat Si kupu-kupu malam yang keluar untuk mewarnai sayapnya Dua sekuriti sibuk menerima kurir kemudian memberikan paket kepada penghuni yang menanyakannya Pos sekuriti di depan taman bermain ini penuh sesak dengan berbagai makanan dan paket pesanan penghuni Anak-anak tertawa gembira dengan perosotan sederhana dan sudah terkelupas catnya Para ibu tersenyum-senyum melihat βmemeβ anak selebritis itu Para ojol berbagi joke kotor dan terbahak-bahak bersama Dua sekuriti bergantian menyeruput kopi tanpa susu di sela-sela kesibukan menerima dan memberikan pesanan dengan senyuman ramah menyapa penghuni Aku baru saja pulang untuk mendulang jauh-jauh aku berkelana untuk menyembuhkan luka yang menganga bergembira melihat betapa uniknya kebudayaan orang di belahan dunia sana ternyata aku juga bisa bergembira di dunia sini sesederhana dengan memperhatikan taman bermain di tengah apartemen ini