Bukan, ini bukan tentang film romantis sepanjang masa yang bikin baper dan klepek-klepek kaum wanita ituh. Bukan tentang Lizzie dan Mr.Darcy. Tapi tentang saya dan orang baru yang melihat saya. Dengan kecuekan dan ketidaksadaran saya ini, saya merasa sih biasa-biasa aja. Buat orang yang sudah belajar agama melihat pakaian saya yang menutup aurat termasuk wajah tapi masih memakai two pieces dan berwarna mungkin terasa tidak tepat (eh tapi ini mah biasa yang narrow minded aja sih 🥴). Gak berlaku buat di Jakarta ini sih menurut sayah, jarang ada tatapan aneh seperti kalau saya memakai pakaian tersebut di kampung halaman saya. Bisa diliatin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau di Jakarta alhamdulillah lebih banyaknya sih persangkaan yang positif ya. Misalnya, saya sering dikira lulusan pondok pesantren atau ummi-ummi (Habib versi perempuan ya). Jadi sering ditanya hukum-hukum atau bahkan amalan-amalan (bid’ah/yang beda jalur) yang harus dilakukan. Kejadian terbaru adalah saat saya berada di mobil online dan bersiap mau rehat atau merem sebentar gitu, karena lumayan panjang waktu tempuhnya. Drivernya mulai membuka pembicaraan. “Ibu lulusan pondok mana ?” “Oh, saya bukan lulusan pondok Pak, memangnya kenapa Pak ?” “Oh gitu, saya mau nanya-nanya tentang syariat Islam Bu, tapi memang menutup auratnya Ibu bagus ya!” “Mau nanya apa Pak ? Alhamdulillah, kan gak musti harus lulusan pondok Pak untuk berpakaian seperti ini. Kewajiban kita untuk menuntut ilmu dan mengetahui agama kita walau tidak mondok.” “Gitu ya Bu, bener sih ! Saya mau nanya Bu tentang hutang “, kemudian mengalirlah cerita beliau panjang kali lebar…. “Namanya hutang harus dibayar ya Pak, karena dalam islam…” akhirnya saya menjelaskan secara horizontal dan vertical. Saya pikir si Bapak sudah cukup puas dengan jawaban saya. Ternyata berlanjut dengan pertanyaan berikutnya. Dan tausiah saya berlanjut terus hingga menyentuh tema sholat. Karena ternyata si Bapak lulusan pondok pesantren tetapi sudah sekian lama tidak mengamalkan ajaran yang termasuk sering melalaikan sholat 5 waktu alias meninggalkannya. Yang uniknya, ketika sudah mau tiba di tujuan si Bapak menyimpulkan. “Alhamdulillah ya Bu, saya dapat ilmu dari Ibu sehingga gak terasa sudah sampai tujuan. Ada 3 ilmu syariat Islam yang saya baru pelajari dari Ibu, tentang hutang, sholat ghoib dan sholat 5 waktu. Makasih ya Bu !” “Sama-sama Pak ! Sebagai muslim kita musti saling mengingatkan Pak, jangan lupa sholatnya ya Pak !”, demikian saya menutup percakapan kami dan turun. Lelah karena gak sempet istirahat seperti yang saya harapkan, tapi bahagia.
Liburan warlok Jakarta – Part 3
Masih di hari yang sama, sehabis dari Blok M tadi tujuan berikutnya adalah Sency alias Mall Senayan City. Terus terang saya rasanya selama pindah ke Jakarta ini belum pernah ke Mall Sency. Nuansanya seperti ke Plaza Indonesia. Menurut saya yang kaum berburu asesoris lucu nan murah meriah. Jadi intinya bukan kelas saya. Terus ngapain saya ke situ ? Pertama untuk memenuhi undangan keluarga. Karena ada tante saya yang dari luar kota berkunjung, maka seperti biasa keluarga besar dari pihak ibu saya yang berada di Jabodetabek berkumpul untuk bersilaturahmi. Undangannya berkumpul di Food Court Sency, yang baru saya tau ternyata berada di lantai paling atas. Kedua, sepertinya Allah punya kehendak lain untuk saya. Saya ke Sency untuk memimpin sholat jamaah perempuan di Musholla lantai GF. Bagaimana ceritanya ? Jadi seperti yang saya sampaikan di Part 1, musholla di Mall-Mall Jakarta itu penuh banget. Padahal gak cuma satu mushollanya. Seperti di Sency ini. Menurut sepupu saya yang sering kesitu, ada musholla lagi di lantai 6 di parkiran. Nah, karena tiap waktu sholat penuh banget, jadi kami inisiatif ke Musholla 15 menit sebelum waktu sholat Magrib tiba. Alhamdulillah kami bisa berwudhu dan dapat tempat duduk dengan nyaman. Saya memilih tempat duduk yang depan ya pilar. Lebih mudah menaruh tas dan ada sutrah alami. Sambil menunggu waktu sholat yang masih ada sekitar 5-8 menitan lagi, penjaga mushollanya menginfokan bahwa di musholla perempuan ini tidak ikut berjamaah dengan para pria karena posisinya yang di depan jamaah pria. Jadi diharapkan sholat sendiri-sendiri saja atau jika mau berjamaah diantara para perempuan dipersilahkan. Tante saya yang duduk di depan dah nengok ke arah saya yang di posisi belakang. Meminta saya ke depan dan memimpin sholat berjamaah di antara keluarga saya. Mungkin karena saya guru ngaji. Kemudian saya persilahkan sepupu saya yang di Jakarta dan lebih senior dari saya untuk menjadi imam. Tapi meminta saya saja. Setelah adzan berkumandang, jadilah saya berdiri, dan karena di belakang saya sudah banyak jamaah perempuan, sekalian saja saya tawarkan. Kalau ada yang mau jamaah dengan saya silahkan. Saat itu saya posisi di baris kedua. Nah, jamaah di baris pertama langsung menawarkan agar saya maju ke depan untuk memimpin jamaah. Akhirnya jadilah saya memimpin sholat berjamaah ini dengan surah andalah Qul (Al Kafiruun dan Al Ikhlas). Disamping itu yang paling dihafal, juga karena melihat kondisi antrian jamaah yang belum sholat juga. Saya merasa ada getaran di suara saya karena baru ini setelah sekian lama, memimpin jamaah sebanyak ini dan khawatir lupa ayat. Alhamdulillah selesai juga dan langsung beranjak dengan perasaan campur aduk. Senang karena banyak yang sholat on time, bahagia karena di Mall elite nan mewah sekelas Sency ini masih ramah muslimah. Ada musholla khusus muslimahnya itu loh. Dengan kamar mandinya juga ada di area wudhu. Daaan ada petugas perempuannya yang selalu mengingatkan buat menjaga barang-barang berharga dan bisa menempati tempat yang kosong dengan sutroh. Gak semua paham loh dengan sutroh. Dan petugasnya yang saya temui ada yang penampilannya seperti laki-laki. Hampir saya kaget, ternyata pakai anting. Bener-bener, don’t judge book by it’s cover yah. Kereen buat Sency 🥰. Antrian luar, antrian di dalamnya juga sama. Ini hampir di semua Mall di Jakarta seperti ini. Masya Allah !
Liburan warlok Jakarta – Part 2
Kembali ke rutinitas pengajar online yang gak punya waktu khusus liburan layaknya pekerja kantoran atau guru sekolah offline. Senin sampai Jumat biasanya hanya berada di dalam unit ukuran 30 meter persegi, ngajar-makan-tidur-toilet-repeat. Karena banyak tanggal merah dan cuti bersama, maka sudah dipastikan teman saya yang pekerja kantoran akan ngajak saya keluar untuk jalan dan kulineran. Suatu ajakan yang syulit untuk ditolak. Maka minggu ini saya dan teman saya pergi ke Blok M lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya. Gak pernah bosen sih ke Blok M walau rame. Karena kami tentu saja tidak akan ke tempat yang antri panjang gak masuk akal. Kami biasanya menghabiskan waktu ngafe yang gak rame dan berjalan-jalan saja untuk meluruhkan lemak yang gak habis-habis inih. Gak libur akhir tahun saja, bisa dipastikan weekend (start from Jumat) negara Blok M ini rame ngeruntel, apalagi libur akhir tahun macam saat ini ya. Warlok ditambah turis menjadi satu, tumpah ruah disini. Ya walau ada juga warlok yang gak suka ke Blok M apalagi saat rame begini. Bagi saya mah, hayuk aja, selama saya masih bisa jalan (plus jajan) banyak. Kondisi jalanan Blok M menuju MRT per 28 Desember 2025. Siang ini kami makan di cafe masakan Malaysia, dekat Pasaraya Blok M. Gak nyangka sih kalau makanan dan minumannya cukup ramah di kantong dan yang paling penting tempatnya adem dan luas. Bonusnya gak rame. Cocoklah buat kaum yang gak cukup tua (menolak tua) untuk dipanggil Ibu dan terlalu tua untuk dipanggil Kak. Setelah makan berat kami memutuskan untuk lanjut jalan kaki seputaran Blok M ini. O ya btw karena kami sama-sama IF (alias Intermitten Fasting) jadi kami makan sekitar jam 13.00 an. Sholat dzuhur di rumah masing-masing dulu. Kalau jadi warlok kita harus jeli dalam waktu sholat ya. Karena waktu di perjalanan Jakarta itu sangat tidak bisa perkirakan. Jadi amannya kami bertemu setelah sholat dzuhur dan biasanya akan sholat ashar di tempat yang dituju. Intinya mah, jangan sampai terlewat waktu sholat hanya karena terjebak macet di jalan. Balik ke waktu melemaskan kaki ini, kami melihat ada cafe buat ngopi gitu yang gak gitu rame dan unik. Uniknya, cafe ini dari luarnya seperti bar, tapi mereka menyediakan musholla. Sangat cucok dengan kami. Walau banyak para remaja yang berfoto di luarnya, dalam cafe ini lumayan sepi. Karena masih kenyang dan cuma ingin menikmati orang lalu lalang di jalan, kami cuma memesan minum dan memilih tempat duduk dekat jendela. Saya bukan penikmat kopi, tapi suka mencium wanginya. Sambil meminum milkshake coklat dengan topping es krim di atasnya, menatap pemandangan luar yang mendadak mendung, Alhamdulillah suatu nikmat yang luar biasa. Kemudian seperti di novel, turunlah hujan dengan lebatnya, orang-orang berlarian berteduh di teras supermarket atau cafe. Dan kami dengan santainya mengobrol Dan berfoto di dalam cafe dengan harga minuman standar. Hanya 30 ribu saja, dapat tempat berteduh dengan nuansa vintage. Lengkap sudah perjalanan hari ini, sambil memesan mobil online masing-masing ke next destination tanpa kehujanan. Nikmat manalagi yang kau dustakan ?
Liburan warlok Jakarta – Part 1
Apakah saya sudah termasuk warga lokal Jakarta atau bukan, entahlah. Anggap saja saya sudah warlok ya. Biar cerita ini agak seru dikitlah ! Semenjak tinggal di Jakarta, saya jarang sekali memikirkan liburan anak-anak akan kemana. Secara mereka sekarang dah sibuk dengan projectnya masing-masing dan sepertinya kita bisa kapan aja pergi berlibur atau refreshing. Jakarta gitu loh. Saya yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan saja belum habis rasanya menjelajah tempat-tempat di Jaksel apalagi wilayah Jakarta lainnya. Dan vibes Jakarta sebagai kota tujuan liburan atau wisata yang kuat menjadikan kami seakan ya lagi liburan aja (ini perasaan saya saja mungkin ya, karena bekerja online di rumah dan saat keluar dari unit apartemen serasa liburan 😄). Karena saya suka ke Mall (dingin dan bisa menuntaskan target jalan minimal 5 ribu langkah-gak usahlah terlalu muluk-muluk, untung-untung ada langkah). Jadi liburan akhir tahun ini terkadang dihabiskan dengan mengunjungi Mall-Mall di Jakarta. Favorit saya adalah Pondok Indah Mall (PIM) dan Blok M Plaza sih sekarang. Kenapa PIM ? Karena PIM adalah Mall yang guede banget, dan ada 3 pula. Lumayanlah keliling Dari PIM 1, ke PIM 2 dan lanjut ke PIM 3. Sampai saat ini pun saya masih gak hafal jalan yang menghubungkan ketiga Mall gede itu. Tapi menyenangkan jalan-jalan di sana. Cuci mata melihat barang bagus yang gak akan dibeli karena gak mampu hehehehe, melihat berbagai macam style orang-orang dan banyaknya para suster ngurusin anak atau orangtua majikannya. Di PIM ini juga lumayan banyak mushollanya, hampir di tiap lantai ada musholla. Dan bukan di basement atau di parkiran. Dan amazingnya, mushollanya ruamee banget guys liburan ini. Saat tempo hari kesana saat sholat Magrib sampai antri melebihi antrian donat viral di Blok M. Masya Allah ! Artinya, banyak banget Muslim yang sholat. Kalau liat di luar Musholla kadang kita gak bisa mengira bahwa mbak-mbak cantik nan modis ini adalah seorang muslimah. Soalnya pakaiannya minim fabrik. Itulah, memang kita tidak bisa menilai dari penampilan seseorang. Bisa jadi dia sedang menuju dan memperbaiki dirinya dengan tahapan awal tidak meninggalkan sholat. Sebagai sesama muslimah mari kita doakan agar mbaknya istiqomah dan who knows suatu saat dia berpakaian lebih baik dari kita kan. Mall Pondok Indah ini tidak hanya menjual brand-brand mewah saja tapi brand menengah yang affordable yang sanggup saya beli juga ada. Contohnya Miniso, yang letaknya diantara lapak kuliner. Warning ya, hati-hati ke Mall akhir tahun yah. Banyak sale barang-barang lucu dan akhirnya boncos! Seperti saya gini, gak niat mau beli, eh kebeli juga 🥲. Sebagai penggemar Harry Potter tapi gak sampai jadi Potterhead sih. Melihat sale sampai 50 persen begini dan lucuuuu, gak sanggup melewatkan untuk tidak membelinya. Miniso oh Miniso. Gak sampai disitu, ada store Flying Tiger yang selalu bikin gemes dengan buku jurnal serta pernak-perniknya juga tidak bisa diabaikan. Memakai alasan untuk menulis, jadilah membeli jurnal baru inih. Bahaya banget kan liburan warlok Jakarta ini ? Ya sudah, marilah kita segera pulang sebelum kehabisan dan berakhir dengan makan mie layaknya anak kos akhir bulan.
Ada apa di Balikpapan ?
Saat tiba di Jakarta Sabtu kemarin, teman lama semasa kos di Kukusan Kelurahan yang sekarang sudah menjadi dosen di kampus yang sama, bertanya, “Da, gue mau ke Balikpapan nih, gue bisa keliling kemana aja ya ?”. Sejenak sambil menatap WhatsApp berpikir keras, kemana ya ? Secara Balikpapan tuh panas banget dan jika dibandingkan dengan pulau Jawa yang wisata alamnya luar biasa, Balikpapan tuh gak ada apa-apanya. Mungkin karena saya juga bukan pecinta alam di kala cuaca panas. Saya tidak begitu suka pantai dan hutan. Nah, itulah keunikan Balikpapan. Pantai bisa dilihat dimana-mana, bahkan dari sepanjang jalan raya utamanya. Hutannya ya tidak perlu diragukan lagi, lebat dan sudah pasti banyak binatang yang bersembunyi di dalamnya. Walaupun sekarang sudah ada beberapa pilihan tempat pilihan wisata alam yang instagramable, seperti Bukit Kebo (@bukitkebo), Bamboe Wanadesa (@wisata_bambu), Lakeview (@lakeview.id) yang sekaligus menawarkan wahana bermainnya. Jika anda penyuka pantai dan ingin bermalam sudah ada beberapa pilihan glampingnya, yaitu di Coconut Beach (@coconutbeach.samboja). Wisata legend di Balikpapan ada KWPLH (Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup) atau yang dikenal sebagai Pusat Beruang Madu di daerah kilometer 23 sekitar 45 menit dari Balikpapan kemudian ada juga Bukit Bangkirai (yang terkenal dengan jembatan yang berada di atas pohonnya) terletak di kecamatan Samboja sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan dari Balikpapan. Tak kalah menariknya ada penangkaran Buaya di daerah Tertitip sekitar 1 jam perjalanan dari Balikpapan. Intinya wisata-wisata terkenal di Balikpapan tuh memiliki jarak tempuh yang jauh dan lumayan melelahkan. Sementara kota Balikpapan sendiri bisa dikelilingi dengan cukup singkat dan bisa dalam waktu kurang dari 12 jam beserta mampir kulinernya. Anda bisa mengunjungi Pantai Lamaru dengan pohon cemara udangnya, mirip-miriplah seperti di Naminara Korsel. Di daerah kota ada Pantai Monpera dan Pantai Melawai. Di belakang Mall Pentacity dan Hotel Aston atau Apartemen Borneo Bay, anda juga bisa menikmati laut dengan spot yang bagus. Kemudian anda bisa melihat pemandangan dari dalam kendaraan di daerah pelabuhan Semayang, kawasan jalan minyak sampai kebun sayur tempat berbagai macam oleh-oleh. Jika anda masih ada waktu, malamnya anda bisa makan di belakang kawasan Ruko Bandar dengan tetap menikmati suasana pantai. Yang paling enak sih wisata kulinernya terutama seafood. Next saya coba kasih tau wisata kuliner di Balikpapan ya. Semoga informasi singkat di atas bisa membantu teman-teman yang akan berkunjung ke Balikpapan. Ingat, bawa pakaian senyaman mungkin dan sunblock yah !
IKN
Pertama masuk wilayah IKN disambut dengan debu dimana-mana. Bahkan ada spanduk bertuliskan PAKAILAH MASKER KARENA DEBU BISA MEMBUNUHMU. Emang lumayan horor sih debunya. Masih banyak truk-truk besar berseliweran, pekerja-pekerja baik dengan masker maupun tidak, memenuhi jalan-jalan. Ada yang menyapu jalan, ada yang sibuk memasang jaring-jaring hijau untuk ditanami. Beberapa area sudah tampak hijau dengan rumput yang terawat. Hutan dibabat untuk pembuatan jalan-jalan tol baru serta gedung-gedung berbagai fasilitas. Bahkan RS Hermina disini lebih bagus gedungnya dibanding dengan RS Hermina di Balikpapan. Bangunan apartemen-apartemen sudah mulai tampak tinggi menjulang. Bahkan hotel pun sudah ada, yaitu Swissotel Nusantara. Gedung Bank Indonesia pun sudah berdiri. Bangunannya futuristik seperti film Starwars. Istana Negara megah dengan desain Burung Garuda ‘rendah hati’nya (ini bahasa saya aja, karena seperti tidak terlihat paruh dan tegak kepalanya seperti yang biasa kita lihat di dinding sekolah-sekolah). Seberang Istana Negara terdapat plaza yang baru berisi satu tenan yaitu Exelso. Karena bukan penggemar kopi dan cuaca yang puanas maka saya tidak melihat sampai ke dalamnya. Tampak luar saja. Bangunan plaza ini pun berdesain futuristik. Saat saya berkunjung beberapa area tidak bisa dimasuki karena sedang dalam pembenahan atau pemasangan paving. Saat menuju pintu keluar IKN saya melihat ada kereta tanpa rel yang dibicarakan itu. Tidak terlalu panjang dan ada ban yang tersembunyi di dalam kereta tersebut. Jadi seperti bus dalam badan kereta gitu sih. Sekali lagi ini menurut saya yah. Kesimpulannya, saya cukup takjub dengan hutan belantara yang disulap menjadi gedung-gedung futuristik. Seakan-akan memasuki wilayah mistis dengan beberapa desainnya. Sementara tidak banyak yang dilihat. Tidak sebanding dengan jauhnya perjalanan yang saya tempuh dari Balikpapan. Ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Tapi paling tidak berkunjung ke IKN menjawab rasa penasaran saya dan menjadi bahan cerita saya saat bertemu dengan kawan-kawan di Jakarta. Bagaimana dengan kamu ? Sudah berkunjung ke IKN ? Yang belum, tertarik ? 🙂
Menuju IKN
Alhamdulillah jalan menuju IKN akhirnya terbuka juga. Semenjak menginjakkan kaki di kampung halaman Balikpapan ini, benak selalu memikirkan bagaimana cara ke IKN dan dengan siapa. Saya sudah mengenal keluarga inti saya sendiri, bahwa mereka pasti gak akan mau diajak ke IKN. Mereka tidak suka jalan jauh dan panas. Dan bagi mereka IKN tidaklah terlalu menarik. Apalagi buat ibu saya. Beliau sudah pernah ke Titik Nol dan dulunya kerja di transmigrasi, dah bosen jalan belusukan hutan belantara. Walaupun sekarang sudah disulap layaknya membuat candi, sekejap mata dah jadi, tetap saja tidak menarik perhatian ibu saya. Bertanya dengan beberapa supir online, berapa biaya sewa kendaraan ke IKN membuat saya pesimis bisa pergi ke IKN. Biaya Pulang Perginya sama dengan tiket pesawat saya dari Jakarta ke Balikpapan. Sejenak saya lupakan saja impian saya ke sana. Tetapi jika Allah sudah berkehendak, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Di kesempatan saya mengisi acara Self Healing yang diinisiasi oleh beberapa wali murid sekolah tempat saya mengajar dulu, AISBA, saya sempat berbincang-bincang dengan mbak Lidia dan bunda Adhwa. Saya bertanya,”Sudah pada IKN kah?”. Mereka menjawab, “Belum ustadzah, kepengen sih!”. Ibarat gayung bersambut, akhirnya mereka mengajak saya untuk bareng pergi ke IKN dan menanyakan jadwal kosong saya. Singkat cerita, setelah hampir batal berangkat, Alhamdulillah saya dijemput juga dengan mbak Lidia dan keluarga untuk pergi ke IKN bersama rombongan keluarga bunda Adhwa. Awal berangkat sekitar jam 10 pagi dengan cuaca tidak terlalu panas untuk ukuran Balikpapan, kami menuju tol di km 13. Saya berangkat cuma berbekal dompet dengan beberapa kartu. Ternyata diantara kartu yang saya bawa itu terdapat satu kartu yang berguna. Yaitu kartu e-money saya. Dipergunakan untuk masuk tol. Tarif tol ke Samboja Rp.32.500,- dari gerbang tol Karang Joang. Jalan tol di Kalimantan ini agak berbeda dengan jalan tol di pulau Jawa. Jalan tol di sini, aspalnya tidak rata dan mulus, bergelombang, tak jarang ada lubang yang tidak terlihat dan retakan rambut di jalan aspalnya. Jadi bawa mobil pun tidak bisa selaju dan seaman di pulau Jawa. Pemandangan rimbun pohon di kanan dan kiri tol lumayan menyejukkan mata di tengah cetarnya langit Balikpapan. Perjalanan di tol tidak terlalu lama. Setelah keluar tol kami masih harus lanjut lagi menuju IKN sekitar 1 jam an. Total perjalanan 1,5 – 2 jam dari Balikpapan. Keluar tol, pemandangan pohon sawit di kanan kiri masih memanjakan mata. Mendekati IKN, jalan mulai berdebu dan tanah banyak menutupi jalan aspal. Tanda pengerjaan proyek IKN ini belum selesai. Penginapan dan street food mulai banyak memakai nama IKN atau Nusantara. Indomaret juga sudah ada di sana. Setidaknya saya melihat ada 2 Indomaret di daerah menuju Mentawir dan dekat dengan IKN. Jaraknya memang agak jauh. Ada 2 masjid besar yang menjadi favorit pemberhentian para musafir IKN :-). Saya lupa namanya. Jika melihat kubah masjid warna hijau dan kuning dan besar, nah itulah masjidnya. Rata-rata didominasi warna hijau dan kuning masjid dan kubahnya. Jika menuju IKN dari arah Sepaku dan Semoy maka anda akan melihat Rumah Makan Alam IKN dan tempat oleh-oleh Alam IKN di sisi kanan jalan. Tidak jauh dari RM itu maka anda sudah akan tiba di IKN. Anda harus mengisi aplikasi untuk bisa masuk IKN atau daftar langsung di tempat. Tempat pendaftaran dan pengecekan awal lumayan jauh dari IKN. Anda harus menaruh kendaraan di tempat tersebut dan naik shuttle bus Blue Bird yang sudah disediakan untuk masuk ke wilayah IKN. Anda bisa mengitari wilayah tersebut dengan shuttle bus tadi, kemudian berhenti di tempat di mana anda ingin berfoto, kemudian antri lagi untuk naik shuttle bus berikutnya. Mirip jika anda ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) gitu. Karena kondisi cuaca Kalimantan ini sangatlah panas membahana, cetar hingga gemetar lutut berjalan, jadi siapkanlah fisik anda untuk berjalan jauh, sunblock spf tinggi, kacamata hitam besar dan topi lebar cantik ala Syahrini juga payung golf ya 🙂
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Menerbitkan buku tentang perempuan dengan judul yang ‘menyeramkan’ merupakan tantangan tersendiri. Di tengah kondisi masyarakat yang minim literasi, di tengah para penuntut ilmu yang memandang sebelah mata buku Novel macam ini, di tengah orang-orang yang menilai rendah value (harga) sebuah buku, menumbuhkan kesadaran bahwa mencapai tujuan buku ini dibuat masilah panjang. Karena sub judulnya mengangkat tema tentang perceraian, maka buat sebagian besar orang yang tidak suka membaca atau parno duluan akan dengan mudahnya mereka men’judge‘ isi buku ini lantas abai serta acuh. Jadi ini tuh buku apa sih sebenarnya ? Ini buku novel ya, alias cerita fiktif, rekaan, khayalan tentang seorang perempuan yang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Jadi gak usah dicari tau siapa dia, apakah ini cerita penulis sendiri atau temannya ? Sekali lagi saya katakan, ini bukan cerita seseorang, tetapi cerita rekaan yang bisa saja terjadi kepada siapa pun. Nah, karena saya seorang pendidik, maka tidaklah afdol jika saya tidak menambahkan nilai-nilai serta rambu-rambu dalam setiap episode kehidupan yang dialami tokoh perempuan di buku ini. Apalagi saya sering menerima curhatan para perempuan yang mengalami masalah dan meminta bantuan nasihat tertutama dari sisi agama. Sebagai seorang perempuan dan mengerti perasaan serta emosi yang dihadapi perempuan maka saya merasa perlu membuat buku yang isinya panduan secara bertahap jika perempuan menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Yang tidak sedikit berakhir dengan perceraian. Bukan menyarankan perceraian. Tetapi jika rumah tangga sudah diujung tanduk dan bayang-bayang perceraian sudah dipelupuk mata, supaya perempuan tidak salah melangkah dan mengambil keputusan maka perlu kiranya perempuan menimbang banyak hal yang akan dijelaskan di bab-bab buku ini. Buku ini ibarat pedoman A sampai Z bagaimana sebaiknya perempuan mengelola perasaan dan tindakan yang akan diambilnya. Memang benar bahwa setiap buku akan menemukan pembacanya sendiri. Karena setiap orang memiliki pengalamannya sendiri-sendiri dan secara tidak langsung akan membentuk ‘circle‘nya sendiri. Dengan menulis dan memberanikan diri untuk menerbitkan buku ini, membuat saya menemukan circle baru dan seperti layaknya alat filter. Saya menemukan teman dan keluarga yang sesungguhnya. Yang mau ‘mengenal’ saya lebih dalam, yang mau ‘kepo’ apa sih isi buku saya ini, yang mau terima ‘mahal’nya buku saya even untuk ukuran Balikpapan yang biaya hidupnya termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia. Memasarkan buku yang ‘tidak biasa dan tabu’ ini dengan membuat acara bedah buku, sharing session bahkan promo di beberapa radio (dalam rangka mengedukasi para perempuan juga), tidak juga terlalu mendongkrak penjualan buku saya. Tetapi saya tetap senang dan menikmati semua proses itu. Yang paling membahagiakan adalah bertemu dengan perempuan-perempuan dengan berbagai masalahnya, berbagi tips, saling memotivasi dan menyemangati. Satu even membuat saya bersyukur bahwa anak-anak SMP dan SMA Pondok antusias mengikuti bedah buku saya, bertanya mengenai beberapa bab di buku saya dan saya bisa menjelaskan dari perspektif seorang pelajar dan mengedukasi mereka tentang persiapan-persiapan menjadi calon istri dan calon ibu. Akhirnya buku saya, perlahan tapi pasti menemukan pembacanya. Saya menemukan audience saya. Alhamdulillah atas segala nikmat Allah yang luar biasa. Apakah anda masih takut membaca buku Perempuan di BalikPapan, Pertolongan Pertama Pada Perceraian ?
Kuliner Balikpapan
Sebagai pecinta makanan dan pemakan segala alias tidak ada pantangan, maka salah satu yang bikin kangen Balikpapan tuh adalah makanannya. Hampir semua makanan ada dan enak-enak. Selain soto banjarnya yang juara, makanan seafoodnya juga gak kalah maknyus. Kangen dengan rumah makan legendaris Haur Gading yang terletak di pusat oleh-oleh dan cinderamata Balikpapan yaitu daerah kebun sayur, maka meluncurlah siang nan terik hari itu bersama seorang bestie. Langsung tertarik dengan udang bakarnya yang lumayan besar dan menggugah selera. Bergegas saya memesannya dan langsung mencari tempat duduk dekat kipas angin. Sudah mendekati jam makan siang. Sebentar lagi bakal rame dan susah cari tempat duduk yang nyaman untuk makan di sana. Benar saja, 10 menit kami duduk dan menikmati hidangan pembuka, sayur pare, berdatanganlah bapak-bapak pekerja dari berbagai instansi di Balikpapan. Alhamdulillah pesanan kami sudah diletakkan di meja dan siap untuk disantap. Yang paling saya sukai juga adalah sambel mangganya. Mari Makan ! Buat yang belum tau dan akan berkunjung ke Balikpapan, berikut menu dan tumpukan ikan yang disiapkan di RM. Haur Gading.
Pulang Kampung
Setelah 15 bulan dan melewatkan 2 hari raya, akhirnya saya pulang juga. Melepas kangen dengan ibu tercinta, para bestie, kuliner Balikpapan berbungkus promo buku perdana saya. Malam itu saya tiba diiringi hujan yang lumayan deras. Sepertinya langit ikut terharu melihat saya menginjakkan kaki yang telah jauh berjalan untuk kembali pulang. Tetapi kesejukan malam itu tidak berlangsung lama, matahari cetar membahana menghajar tubuh berlemak ini tanpa tanggung-tanggung. Keringet buntet merajalela. Seolah-olah sekujur badan saya menjadi lahan empuk dan tak lupa merupakan sumber makanan para nyamuk siang dan malam. Saya lupa bahwa ada makhluk berdenging dan penggigit ulung yang mengincar setiap sudut kulit yang terbuka. Ah, saya merindukan apartemen saya. Tidak ada nyamuk dan selalu dingin. Sepertinya setelah menjelajah negara 4 musim, saya jadi candu dengan salju. Dinginnya yang membuat saya bisa tidur nyenyak. Confirm, saya gak cocok tinggal di daerah panas. Hahahaha, belum-belum begaya aja nih anak kampung. Balikpapan memang selalu panas. Walaupun begitu kulinernya bikin kangen. Nasi kuning, pecel ayam mbak Nur, soto ayam seger di warung Jogya, ayam wangi Simpang 4 Suki, pempek 77, jajanan pasar Stal Kuda, nasi goreng Jakarta di Korpri. Tak lupa soto banjar di paman Irsyad. Yah sementara baru itu yang dimakan lagi. Gimana warga Balikpapan, ada yang baru yang worthed dicoba ?